Budaya Membaca dan Semangat Literasi Palsu

Satuin

Kepada salah seorang kawan saya bertanya, mengapa kita masih disibukkan dengan membangkitkan semangat membaca masyarakat? Sementara di negara-negara adidaya yang maju—nun jauh disana—semangat itu lahir atas dasar kesadaran diri sendiri. Kawan saya hanya mesem-mesem saja. Lalu ia menjabarkan beberapa faktor yang paling mungkin merusak dan menghambat mood setiap orang saat membaca.

Dalam konteks kebantenan, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) memang tumbuh sedemikian pesat, secara massal orang-orang membangun TBM, lalu kemudian secara massal pula masyarakat menyumbangkan buku-bukunya dengan dalih turut serta dalam pembangunan semangat literasi dan menjadi bagian dalam mendorong perubahan di lingkungan sekitarnya. Namun sayangnya, pembangunan TBM menjadi sekadar gerakan sporadis yang tidak memberikan efek yang terlalu besar bagi budaya literasi di masyarakat kita, minimal di masyarakat sekitar TBM itu sendiri. Faktor kedua adalah minimnya ketersediaan buku-buku berkualitas di sekitar kita. Bagi saya, semangat membaca itu mirip seperti iman seseorang, harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Bila iman dijaga dengan dzikir, maka semangat membaca harus dijaga dengan ketersediaan buku yang cukup. Sehingga semangat seseorang untuk membaca akan terjaga dengan baik.

Faktor selanjutnya adalah ketersediaan perpustakaan daerah yang representatif, mulai dari jumlah buku, kondisi ruang baca, juga jumlah pustakawan—yang bagi saya—memberikan pengaruh cukup besar. Perpustakaan ibukota kita, yakni Perpustakaan Daerah Kota Serang hanya memiliki satu orang pustakawan, yang sudah dipastikan tidak bisa mengoptimalkan fungsi perpustakaan itu sendiri. Selain itu, komunitas-komunitas yang konon peduli dengan literasi, hanya mampu “menjadikan” anggotanya untuk menjadi pembaca serius atau menjadi penulis—misalnya, tetapi komunitas-komunitas di Banten, belum mampu memberikan dampak besar bagi masyarakat sekitar, untuk turut serta mendorong semangat membaca, minimal menumbuhkan keinginan untuk membaca itu sendiri.

Tak puas dengan jawaban salah seorang kawan saya, lalu saya bertanya juga kepada salah seorang mahasiswa yang mengaku sebagai seorang aktivis pecinta alam, ia menjawab dengan enteng tapi patut diperhitungkan juga, “Saya tidak pernah mau membaca di perpustakaan, karena disana kita tidak boleh membaca sambil merokok dan ngopi,” padahal saat membaca kita butuh ruang-ruang nyaman, kondisi yang nyaman, juga hati yang nyaman, sebab saat galau melanda seseorang pasti tak punya hasrat membaca, tapi hanya memiliki hasrat untuk menangis.

Dalam paragraf terakhir ini saya hanya ingin katakan, bahwa semangat membaca timbulnya dari diri sendiri, dari lubuk hatimu sendiri yang paling dalam. Seluruh faktor yang saya jabarkan di atas hanya pemakluman-pemakluman yang sebenarnya menjadi alat bagi seseorang yang sebetulnya malas membaca. Semangat membaca bukan berawal dari bagus atau tidaknya perpustakaan daerahmu, tetapi semangat membaca bisa dimulai dari mana saja—seperti memulai membaca jurnal-jurnal ringan di web. Seperti pada ekakurniawan.com/journal atau hurufkecil.wordpress.com. Kalau kamu mau mulai darimana? Niat atau ketersediaan buku? Hidup adalah pilihan (*)

Penulis adalah peserta Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) X dan penulis buku Antologi Puisi Bersama “Musim untuk Laida”

Tinggalkan Balasan